Selasa, 19 Februari 2019

Teknologi Umat Postruth
Berada di Pantai Kurenai, Kota Gorontalo
Tak lama lagi Dzuhur tiba untuk waktu Gorontalo, Minggu (23/12/2018). Di kamar kontrakan berukuran 4 x 3 meter, saya duduk santai bersama teman berkulit agak hitam, empunya kontrakan itu. Kami terjebak dgn apa yg disebut "Phubbing". Duduk berdampingan tapi acuh tak acuh karena lebih konsentrasi pada gadged.

Sesekali teman itu meraih rokok di depan saya & kembali fokus pada gadgetnya. Percakapan kami buntu. Tak terasa, setengah bungkus rokok sudah ludes, saya hanya kebagian dua batang & teh yg di pesan tak kunjung disajikan. Lama-lama jadi bosan dgn situasi demikian. Apalagi kalau bercakap di facebook, saya hanya mendapat tuduhan cebong, komunis, sesat, Islam liberal, Yahudi dll. Saya akhirnya meminjam gadgetnya teman itu untuk mengubah situasi. Rupanya tangannya iklas memberi walau dgn raut muka yg penuh arti. "Mau cari sesuatu dulu," kata saya dgn alasan pulsa sudah hampa.

Begitu masuk dalam platform media sosial yg terinstal di gadgetnya, muncul pemandangan yg berbeda. Kalau di beranda facebook, instagram maupun youtube di smartohone saya, yg muncul lebih dulu konten-konten pilpres atau sejarah & filsafat. Tapi di youtube gadget teman, yg di tawarkan berupa mobil-mobil modern, ada juga game-game terbaru. Di beranda facebooknya, banyak muncul status-status pragmatis-ekonomis.  Kenapa terjadi perbedaan demikian?

Inilah yg disebut "Filter Bubble", sistem algoritma pencarian yg memungkinkan kita mendapat feed hanya dari berita yg kita sukai & kita lihat paling sering. Pengguna media sosial akan terpapar pandangan tertentu & terisolasi secara intelektual. Contohnya ketika kita mengetik tema-tema seumpama : kriminalisasi ulama, Islam dikucilkan, darurat komunis, anti-syiah, bahaya Islam Nusantara, ekspansi china, maka algoritma akan menawarkan lagi tema-tema informasi lainnya yg berkaitan dgn informasi itu di beranda media sosial kita.

Semakin sering membuka konten dgn mengetik tema-tema demikian, beranda facebook, instagram, youtube & google akan dipenuhi pula dgn pilhan tema-tema serupa. Kita dituntun mengikuti informasi itu-itu saja. Tanpa sadar kita sedang mendoktrin diri sendiri. Yang bahaya, manakala informasi-informasi itu ternyata bohong & sumbernya adalah pabrik kebohongan. Kebohongan yg diulang-ulang sebagaimana kata Joesph Goebbels akan diyakini sebagai kebenaran.

Tak perlu heran, jika kini merebaklah orang-orang yg tiba-tiba menjadi fanatik & menyerang orang yg berbeda. Kamu Yahudi, Jokowi komunis, Islam Nusantara itu sesat, dll. Sangat mudah menuduh orang lain yg tidak dalam kelompok pikirannya adalah salah & hanya mau benar sendiri. Manakala sampai pada taraf itu, apa pun fakta yg disuguhkan semuanya sia-sia.

Dan itu berarti sudah menjadi apa yg disebut oleh para sosiolog sebagai umat post truth. Umat yg hidup dgn sebuah situasi dimana penentuan kebenaran berdasarkan fakta tidak lebih penting ketimbang dasar rasa, emosional, identitas & kepercayaan individual..Apakah kita seperti itu? Kita saling introspeksi diri. Ingatlah bahwa kebenaran bukan untuk semua orang, tetapi hanya bagi mereka yg mau mencarinya...

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 komentar:

Posting Komentar

Start Work With Me

Contact Us
JOHN DOE
+123-456-789
Melbourne, Australia