Memahami Perkembangan Ilmu Ekonomi-Politik
![]() |
| Ilustrasion |
Ekonomi-politik
pada masa sekarang sudah menjadi topik mendasar di dalam hubungan
internasional, era di mana liberalisasi ekonomi terjadi hampir di tiap
negara dan interdenpendensi (kondisi negara menjadi sejajar dan saling
berketergantungan satu sama lain) yang semakin menguat, orientasi
kebijakan luar negeri tidak lagi pada permasalahan Power (kekuasaan) yang melekat kepada politik saja, tetapi juga kepada orientasi Welfare (kesejahteraan),
sebagai contoh sederhana; bentuknya bisa berupa bagaimana politik
(negara/pemerintahan) mempengaruhi aktivitas pasar (ekonomi) dan juga
sebaliknya bagaimana mekanisme negara (politik) dipengaruhi oleh
unsur-unsur ekonomi (pasar), dalam sudut pandang realisme (struggle for power)
bagaimana sumber-sumber ekonomi memberi kekuatan pada negara dan
sebaliknya bagaimana faktor negara/politik digunakan untuk meraih
kekuatan/sumber-sumber ekonomi[6].
Dalam
perkembangannya, perdebatan ekonomi-politik pun telah bergeser dari
yang sebelumnya masih berkisar pada ideologi (merkantilisme, liberalisme
dan marxisme)[7], sekarang lebih kepada metodologi dan rasionalitas,
Robert Gilpin berpendapat bahwa mengapa ideologi di dalam
ekonomi-politik harus ditolak, karena area pembuktian ketiga aliran tadi
tidak bisa dibuktikan dengan argumen yang logis dan uji coba
empiris[8].
Bertolak belakang dengan pendekatan realisme yang
menganggap ekonomi-politik hanya sebatas untuk memperluas hegemoni[9],
tetapi dalam pandangan Grieco permasalahan disparitas kapabilitas dalam
kekuatan yang selama ini menjadi penyebab timbulnya konflik atau perang
bisa dihindari dengan kerjasama dan menciptakan institusi yang
menengahi, dalam pandangannya hubungan kerjasama sangat dibutuhkan dalam
distribusi kekuasaan dan memperkuat basis institusi untuk mencegah
kondisi yang rentan persaingan/perlombaan dan konflik[10], dalam
analisis proses pengambilan kebijakan ekonomi-politik, penulis akan
membagi menjadi tiga berdasarkan landasan teori dan konsep sebagai
berikut:
a) Institutionalist
Pendekatan yang
mengutamakan peran aktor dengan menggunakan institusi untuk mencapai
kepentingannya, pendekatan ekonomi-politik ini selalu berusaha menjaga
bentuk institusi baik secara kawasan maupun global agar selalu tercipta
kerja sama antar aktor dan Institusi yang terlibat.
b) Political Economist
Para pelaku pendekatan ini biasa disebut dengan Political Economist,
orientasinya cenderung tidak terlalu terpusat dengan teori, ideologi
atau paradigma. Melainkan sangat terkait dengan grup-grup kepentingan di
dalam negeri, orientasi kepentingan domestik merupakan prioritas utama
di dalam interaksi ekonomi-politiknya dengan aktor lain, alat utama bagi
pendekatan ini adalah Rational Choice yang berdasarkan para pengambil kebijakan di dalam negeri.
c) Neo-Gramscian
Pendekatan ini sangat bercorak Realisme,
menurut paradigma ini ekonomi-politik adalah struktur yang digunakan
untuk mencapai kepentingan tiap-tiap aktor dalam menjaga dominasi dan
hegemoninya di struktur kekuasaan.
Kompetisi untuk meraih kekuasaan (Stuggle for Power) merupakan orientasi utama bagi pendekatan ini, para aktor berlaku bebas (Anarchonistic) dan
mementingkan kepentingan dalam kebijakannya sehingga menciptakan
kompetisi dalam menanamkan dominasi dan hegemoninya antara aktor-aktor.
Menurut neo-gramscian, ekonomi
adalah sebuah struktur yang melingkupi pengetahuan, ide-ide dan
institusi-institusi yang merefleksikan kepentingan utama aktor-aktor
yang berkompetisi didalamnya. Ini terkait dengan struktur sistem itu
sendiri sebagai bentuk vital dalam memahami identitas-identitas dan
preferensi-preferensi setiap aktor, kunci utamanya adalah kompetisi,
yang mana dibatasi oleh kebutuhan-kebutuhan aktor kuat untuk memperoleh
pengakuan dari aktor lemah, agar selalu aktor-aktor lemah tadi selalu
bergantung (Dependent[11]) baik secara ekonomi maupun politik.
Muhammad Dudi Hari Saputra, MA.
(Tenaga Ahli Staf Khusus Kementerian Perindustrian Republik Indonesia)

0 komentar:
Posting Komentar