Selasa, 19 Februari 2019

2019 Ganti Pola Pikir
 
Adriandzah Manyur
Retorika Prabowo & penyokongnya sudah berada di taraf yg berbahaya. Mereka memainkan opini bertabir agama sampai sebagian orang awam telah menempatkan Prabowo pada tataran ilahiah. Prabowo dianggap sang messiah (juru penyelemat) & semua lawan politiknya adalah sumber masalah. Mereka bahkan tak merasa berdosa menggunakan takbir & salawat yg paling teragung untuk disejajarkan dgn kalimat yel-yel pengangkatan Prabowo memimpin Indonesia. "Allahu Akbar", "Shallu ala Nabi", "2019 Ganti Presiden".

Seusai peringatan Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi yg digelar di Solo selama tiga hari, 28-30 Desember 2018, yel-yel ini juga diucapkan sekelompok orang sampai mengundang kemarahan Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan. (Lihat : https://www.youtube.com/watch?v=fk9oIDJ1JR4). Taktik politik seperti ini sebenarnya cukup popupler dalam sejarah Islam. Kelompok pemberontak yg dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan & Khawarij pernah menggunakannya melawan Syaidina Ali Karamallahu wajhahu.

Muawiyah mengangkat Alquran di ujung tombak untuk mengelabui pasukan Ali di perang Shiffin. Khawarij menggunakan slogan La Hukma illa lillah & menuduh Ali kafir dalam menjalankan kebijakan.Mereka tak mau peduli lagi dgn kedudukan Ali sebagai gerbang ilmu Nabi, sahabat, keluarga & remaja yg pertama kali memeluk Islam. Fanatisme telah membutakan hati, yg penting Ali harus diganti.

Tentu Jokowi bukanlah Ali & Prabowo bukanlah Muawiyah atau Khawarij. Akan tetapi lembaran sejarah memberikan pelajaran bahwa ada "kemiripan" dogma di masa lalu yg bereinkarnasi & kini hadir di Indonesia. Dalang semua ini adalah fitnah yg masif. Mesin teknologi telah menjadi alat paling ampuh menebar dusta dan propaganda. Platform media sosial berulang-ulang digunakan menyebarkan ujaran kebencian sedangkan rakyat malas atau tak memiliki cukup waktu melakukan klarifikasi tentang benar tidaknya informasi.

Kondisi ekonomi negara di-framing dari sisi negatif, data TKA dikaburkan seolah negara diserbu asing, penanganan kasus hukum ujaran kebencian dipandang dari sisi subjektif, kasus-kasus tertentu di-generalisasi, masalah negara warisan masa lalu semuanya ditimpakan dipundak Jokowi.
Pola ini diadaptasi dari strategi Donald Trump di Pilpres Amerika atau gerakan parlemen Britain Exit (Brexit) di Inggris. Kemudian dilabeli dgn gerakan atas nama agama untuk menyesuaikan dgn situasi Indonesia yg mayoritas muslim.

Akibatnya orang-orang yg terlanjur termakan doktrin demikian sudah sulit dicerahkan sekalipun disajikan pembanding berdasarkan data. Malah kampanye Indonesia bubar 2030 yg dasarkan pada novel fiksi & isu Indonesia punah bila Prabowo tak menjadi presiden justru dikira prediksi ilmiah.
Terlebih lagi, orang yg berlawanan dgn mereka akan dituduh anti-ulama, anti-Islam, anti-perubahan. Seolah negara sudah dijurang kehancuran sehingga butuh diselamatkan. Prinsip machavellian yg menghalalkan segala cara kini sedang dimainkan.

Pada titik itu, Prabowo mulai di kampanyekan layaknya sang mesiah. Di awali dgn pengangkatannya yg diklaim ijtihad ulama & penyebutan Pilpres sebagai pertarungan kelompok partai Tuhan versus partai setan. Umat digerakkan melakukan perlawanan dgn istilah-istilah ritus-dogma yg transenden seperti jihad, kafir, musyrik & sejenisnya. Rakyat dipecah memilih hitam-putih, hidup-mati atau surga-neraka. Tetapi ingat dalam teori negara demokrasi, rakyat pemilik kedaulatan. Betapapun hebatnya strategi politik, lincahnya manuver, lihainya akrobat yg dimainkan, rakyatlah yg akan menentukannya.

 Maka tahun 2019 adalah saat yg tepat mengganti pola pikir tentang Pilpres. Kalau mendukung calon, mengutip Mahfud MD, sebaiknya dukunglah karena konsep & integritasnya. Tetapi jika ingin mendukung kerena agama, dukunglah yg betul-betul mengerti agama, bukan yg hanya menjadikan agama, ulama & umat sebagai tunggangan padahal, misalnya salat saja tidak bisa.. SELAMAT TAHUN BARU 2019.#Andri_Adriandzah #SALAM_INDONESIA.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 komentar:

Posting Komentar

Start Work With Me

Contact Us
JOHN DOE
+123-456-789
Melbourne, Australia